Welly Yusup

Welcome to my blog

Sabtu, 13 Juli 2013

Pemanfaatan Karet

Sol Sepatu 
 Sol sepatu adalah permukaan sepatu yang langsung bersentuhan dengan lantai.
 Sol biasanya tercetak terpisah atau mempunyai rancangan yang dibuat oleh sebuah calendar. (Marthan, 1998). Sol sepatu merupakan salah satu faktor penentu kualitas sepatu. Sol sepatu boots dibuat dari kompon keras (hard sol).

 Umumnya, sepatu boots dibuat dengan warna dasar hitam. Karena itu pembuatan sol sepatu boots digunakan bahan yang sifatnya keras seperti karet RSS, dan bahan pengisi dari hitam arang. Penggunaan sol karet di Indonesia ini sangat besar, dari data hasil survei potensi industry alas kaki, diperkirakan 50% dari konsumsi sol di Indonesia adalah sol karet (Profil Industri Kecil, 1986).
Syarat utama yang harus dimiliki oleh sol adalah ketahanan, kelenturan, kekerasan, daya tarik, kondisi penyimpanan serta bagian atas sol yang melekat (Marthan, 1998).

 Dalam pembuatan sol sepatu kompon merupakan campuran karet mentah dengan beberapa bahan kimia (ZnO,acid, chemisil, paraffinic oil, sulfur,) yang terlebih dahulu diramu dengan mencampurkannya menggunakan open mill atau banburi untuk mendapatkan kompon karet yang siap divulkanisasi. Kedalam kompon ditambahkan bahan pengisi drengan tujuan untuk meningkatkan sifat mekanik, memperbaiki karakteristik pengolahan dan menurunkan biaya.

 Kompon sol sepatu adalah kompon standar yang digunakan dalam pembuatan sol sepatu. Dan untuk selanjutnya dilakukan pengujian sifat-sifat mekanik vulkanisat karet dari kompon sol sepatu yang sudah jadi. Hasil pengujian sifat mekanik sol sepatu dapat diketahui dengan menyesuaikan hasil pengujian terhadap hasil yang baku. Standar mutu sol sepatu secara umum dapat dilihat dalam tabel 2

9.2. PEMANFAATAN KARET ALAM SEBAGAI BAHAN ADITIF PEMBUATAN JALAN ASPAL DAN BETON (Sumber : www.bptk.com)
Kerusakan dini jalan aspal dan beton disebabkan aspal memiliki kelemahan karena memiliki viskositas rendah dan tidak tahan terhadap panas, radiasi dan oksidasi; sedangkan beton juga memiliki kelemahan yang disebabkan kekerasan yang terlalu tinggi, elastisitas yang sangat rendah dan daya lekat yang lemah. Peningkatan mutu aspal dan beton sudah biasa dilakukan yaitu dengan cara memodifikasinya dengan penambahan bahan tambah atau aditif (modifier) seperti serat selulosa dan polimer.

Polimer yang banyak digunakan selama ini berupa polimer sintetik seperti SBS dan serbuk ban bekas.Penambahan aditif ke dalam aspal atau beton bertujuan agar diperoleh aspal dan beton yang a.l. memiliki fleksibilitas, ketahanan deformasi temperatur, modulus resilien, dan ketahanan usang (ageing) yang lebih baik. Penggunaan lateks alam sebagai aditif diprediksi lebih baik, karena selain berupa bahan alam yang ketersediaannya berlimpah, sifat lengket (tacky) dan sifat plastis lateks alam lebih baik. Selama ini penggunaan lateks alam sebagai aditif masih terbatas karena terdapat kelemahan dari lateks alam, disebabkan lateks mudah menggumpal ketika dicampur dengan aspal atau semen, kadar air lateks pekat yaitu jenis lateks alam dalam perdagangan, masih tinggi yakni > 40% dan karena amonia yang digunakan sebagai pengawet lateks sangat mengganggu dalam aplikasinya sebagai aditif aspal dan semen. Selain itu bobot molekul karetnya yang tinggi dapat menyebabkan viskositas aspal polimer yang mengunakan lateks terlalu tinggi, sehingga sulit untuk diaplikasikan dengan cara penyemprotan (spraying).

Pada penelitian ini disediakan beberapa jenis lateks dengan bahan bantu dan formulasi kompon tertentu yang diuji coba sebagai aditif aspal dan semen beton dalam pembuatan aspal dan beton polimer.

Jenis lateks yang diamati meliputi lateks pekat yang kadar airnya < 40% (LP-AR) yang diprediksi sesuai sebagai aditif aspal, lateks pekat berkadar karbohidrat rendah (LP-KR) yang diprediksi sesuai sesuai sebagai aditif semen, dan lateks pekat berviskositas rendah (LP-VR) yang partikel karetnya mempunyai daya lekat tinggi. Pada TA 2008 ini telah ditetapkan teknologi proses untuk memproduksi berbagai jenis lateks. Jenis lateks yang dibuat beserta teknologi produksi dan prediksi sifatnya sebagai aditif tercantum di dalam Tabel berikut. Dengan menggunakan lateks LP-AR yang berkadar air rendah diharapkan pengaruh muncratan air ketika lateks ditambah ke aspal dapat dikurangi sehingga diprediksi sesuai sebagai aditif aspal, khususnya aspal campuran panas (hot mix). Lateks LP-KR memiliki kandungan karbohidrat rendah, sedangkan karbohidrat dalam jumlah besar akan menghambat setting semen sehingga penggunaannya diprediksi sebagai aditif semen beton. Daya lekat lateks LP-VR disebabkan bobot molekul atau viskositas molekul karetnya lebih rendah dari molekul karet dalam lateks pekat. Dengan sifat demikian diprediksi lateks LP-VR sesuai sebagai aditif bahan tambal jalan aspal dan jalan beton. Dengan bobot molekulnya yang rendah tersebut juga diharapkan pengaruhnya pada kenaikan viskositas aspal dikurangi sehingga sesuai sebagai aditif aspal. Pada tahap selanjutnya, ketiga jenis lateks tersebut, dengan formulasi kompon dan bahan bantu penstabil yang sesuai akan diujicobakan sebagai aditif aspal dan semen / beton.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar